Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2008

Pemimpin NU Harus dari Kader NU

Jakarta, NU Online
Jika keberadaan NU bisa terus langgeng, para pemimpin yang akan dipilih harus kader yang sudah teruji perjuangannya bagi NU, bukan orang luar yang tak faham NU yang akhirnya malah merongrong NU.

Demikian pendapat KH Said Aqil Siradj tentang kriteria penting yang harus dimiliki oleh para pimpinan NU dalam perbincangan dengan NU Online baru-baru ini.

“Sudah banyak terbukti di ormas Islam lain yang dipimpin oleh orang yang bukan kader internal akhirnya menjadi kerdil dan tak berdaya,” katanya.

PBNU juga pernah mengalami intervensi dari pemerintah Orde Baru saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung Jawa Barat tahun 1994. Saat itu, Gus Dur yang merupakan tokoh oposisi Orde Baru berusaha disingkirkan dan diganti dengan pemimpin yang bisa dikendalikan oleh pemerintah. Namun upaya tersebut gagal.

“Sebuah organisasi yang dikooptasi oleh fihak lain juga tidak akan bisa menjadi besar dan disegani,” terangnya.

Dengan kepemimpinan Gus Dur selama tiga periode, NU menjadi ormas Islam terbesar di dunia yang disegani dan menghasilkan kader-kader militan NU serta menyemai pengembangan masyarakat sipil di Indonesia yang membantu terjadinya perubahan di Indonesia.

Pasca Gus Dur, PBNU dipimpin oleh KH Hasyim Muzadi yang melanjutkan perjuangannya mengembangkan NU, terutama dalam penataan manajemen dan pengembangan NU di luar Jawa.

“Tiap pemimpin memiliki masanya sendiri-sendiri dan Gus Dur maupun Pak Hasyim paling pas di jamannya,” tandasnya.

Lalu, siapa nantinya yang akan memimpin NU di masa mendatang ditengah-tengah situasi internal dan eksternal yang terus berubah? Hal tersebut bisa dilihat pada Muktamar NU ke-32 mendatang. (mkf)

Read Full Post »

Saat melaksanakan haji merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya. Beribadah di Haramain (Makkah dan Madinah) mempunyai keutaman yang lebih dari tempat-tempat lainnya. Maka para jamaah haji menyempatkan diri berziarah ke makah Rasulullah SAW. Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya. Rasulullah SAW sendiri bersabda: مَنْ جَائَنِي زَائِرًا لَمْ تَدْعُهُ حَاجَةٌ اِلاَّ زِيَارَتِي كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أنْ أكُوْنَ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ Siapa saja yang datang kepadaku untuk berziarah, dan keperluannya hanya utnuk beziarah kepadaku maka Allh SWT memberikan jaminan agar aku menjadi orang yang memberi syafa’at (pertolongan) kepadanya di hari kiamat nanti. (HR Darul Quthni) ِApalagi ziarah itu dilakukan pada saat melakukan ibadah haji. Dalam hadits lain disebutkan: عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِهِ Dari Ibn ‘Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni) Atas dasar ini, pengarang kitab I’anatut Thalibin menyatakan: “Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam. Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar. Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya. Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.” (I’anatut Thalibin, juz II, hal 313) Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW: عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَتَتَّخِذُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَلا تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَاِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada.” (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449) Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar: “Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW. Yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo’a di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW. (Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia.” (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103) Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.

Read Full Post »