Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

RENCANA STRATEGIS

PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA

KABUPATEN BANTUL PERIODE 2009 – 2014

Visi

Menjadi Jam’iyyah Yang Rahmatan Lil”alamin  dengan berdasarkan Ahli Sunnah wal-Jamaah

Misi

1. Mewujudkan agama Islam sebagai  rahmat bagi seluruh alam di mana ajarannya mendorong kegiatan para pemeluknya utk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

2. Mendukung Visi Dalam Memberikan Nilai Tambah Untuk Meningkatkan Sumber Daya Manusia Dalam Pemahaman Keagamaan Yang Bermanhaj Ahli Sunnah Waljamaah;

3. Mengembangkan Dakwah Islam Yang Raohmatallil’alamin dan Berwawasan Kebangsaan dengan melaksanakan amar makruf nahi mungkar dgn mengorganisasikan kegiatan-kegiatannya dalam satu wadah yg bernama Nahdlatul Ulama yg bertujuan utk mengamalkan ajaran Islam menurut paham Ahli Sunnah wal-Jamaah.

4. Mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan warga Nahdlatul Ulama menuju khaira ummah sebagai bagian mutlak dari kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

5. Mewujudkan hubungan yang  adil,  damai dan menusiawi dengan membangun nuansa saling pengertian dan saling membutuhkan untuk mengembangkan ukhuwah islamiah  yang merupakan amanat  kepentingan nasional.

Tujuan

Menegakan Ajaran Islam Menurut Paham Ahli Sunnah Wal Jama’ah Di Tengah-Tengah Kehidupan Masyarakat Di Dalam Wadah Negara Kesatuan Republik Inndonesia.

Usaha Organisasi

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU  di Kabupaten Bantul.

  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.

  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.

  5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

Iklan

Read Full Post »

SUSUNAN PENGURUS HARIAN

Setelah terpilihnya Rois Syuriyah KH. Abdul Kholiq Syifa’ dan Ketua Tanfidziyyah Yasmuri S.Pd, M.Pd.I Serta terbentuknya Anggota Formatur pada Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bantul pada tanggal  26 April 2009, maka pada hari Sabtu tanggal 9 Mei 2009 Dilaksanakanlah sidang Formatur yang terdiri dari 9 orang anggota. Pada Sidang tersebut telah menghasilkan keputusan tentang Susunan Pengurus Harian Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bantul Masa bakti 2009 – 2014. Adapun Susunan Pengurus sbb:

SUSUNAN PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA

KABUPATEN BANTUL MASA HIDMAH 2009 – 2014

.

.

I.  MUSYTASAR

1. KH. Hasyim Syafi’i

2. KH. R. Najib Abdul Qodir Munawwir

3. KH. Nurhadi  Abdullah

4. KH. Ahmad Zabidi Marzuqi

5. KH. Djunaidi

6. KH. Husnan

7. KH. Khudlori Abdul Aziz

8. KH. Nahrowi

9. KH. Aziz Umar

10. KH. Tohayadi

11. KH. Drs. Suharto Djuwaini M.Pd.I

.

.

II. SYURIYAH

.

ROIS

KH. Abdul Kholiq Syifa’

Wakil Rois

Dr. H. Dadan Muttaqin, S.H, M.Hum.

KH. Muhtarom Idris

KH. Drs. Habib Abd Syakur, M.Ag

K. Drs Murtanda

KH. Ihsanudin, LC

.

KATIB

H. Ahmad Murod, S.Ag

KH. Drs Muhtarom Busyro

H. Nadhif, M, Si

.

.

III. TANFIDZIYYAH:

.

KETUA

Yasmuri, S.Pd, M.Pd.I

Wakil Ketua

Fathurrohim, S.Ag

H. Baharudin, S.Pd

Dr. H. Habib Kamil M.Ag

Dr. H. Hilmi Muhammad,

Drs. Riyanto, M.Hum

.

SEKRETARIS

H. Aidi Johansyah, S.Ag

Ahmad Fauzi, S.Ag

Drs. Marhadi Fuad M.SI

.

BENDAHARA

Nur Hidayat Shodiq

H. Ahmad Widodo, S.H

Drs. H.M.Dawam

Read Full Post »

ahdlatul Ulama (NU) mulai melupakan tambang emas yang sejak lama telah menjadi keunggalan komparatif dan kompetitifnya. Tambang emas dimaksud adalah pesantren.

“NU mulai melupakan akan tambang emas yang berada di tangan,” kata KH Faiz Syukron Makmun MA saat berbicara dalam halaqah pendidikan di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor, Jawa Barat, Ahad (10/5).

Menurut Faiz tindakan melupakan tambang emas dapat ditunjukkan dengan mulai hilangnya orientasi pesantren.

“NU terlalu depan mengambil pangsa pasar pendidikan formal. Keberadaan pesantren terutama yang bercorak tradisional secara perlahan mulai dilupakan,” kata putra KH Syukron Makmun itu.

Fenomena tersebut, menurut Faiz, bila terus didiamkan akan membuat NU kehilangan peran transformasi sosial. “NU memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan pesantren, karena itu NU harus pekat terhadap masalah ini,” katanya.

Halaqah pendidikan itu sendiri digagas oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB) diikuti sejumlah pimpinan pondok pesantren dan tokoh pendidikan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka.

Narasumber yang hadir antara lain Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Darul Muttaqien Bogor Drs KH Mad Rodja Sukarta, Guru Besar IPB Prof Dr Cecep Kusmana MS, Ketua Pengurus Besar NU KH Masdar Farid Mas’udi MA dan Rektor Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi Dr Nandang Najmul Munir.

Halaqah yang dipandu oleh oleh pentolan KMNU IPB Ahmad Fahir ini juga dihadiri dan Dewan Pakar Pesantren Al-Falakiyyah an-Nahdliyyah Pagentongan Bogor yang juga Guru Besar IPB Prof Dr Surjono Hadi Sutjahjo MS, dan pengasuh Pesantren Al-Karimiyyah Kota Depok KH Ahmad Damanhuri MA

Read Full Post »

Sebanyak sembilan partai politik lolos dari Parliamentary Threshold (PT) atau ambang batas perolehan suara sebanyak 2,5 persen dari jumlah suara sah secara nasional pada Pemilu 2009 yang berjumlah sebanyak 104.099.785 suara.

Menurut hasil rekapitulasi nasional yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, Sabtu malam,  Partai Kebangkitan Bangsa meraih 5.146.122 atau 4,94 persen atau setera dengan 26 kursi atau 4,64 persen. Sementara itu PKNU hanya mampu meraih 1.527.593 suara atau 1,47 persen sehingga dipastikan tidak lolos (PT).

Posisi tiga besar dari sembilan parpol tersebut adalah Demokrat dengan 21.703.137 suara atau 20,85 persen (148 kursi), Golkar dengan 15.037.757 suara atau 14,45 persen (108 kursi), dan PDIP dengan 14.600.091 suara atau 14,03 persen (93 kursi).

Setelah itu, posisi keempat hingga keenam adalah PKS dengan 8.206.955 suara atau 7,88 persen, PAN dengan 6.254.580 suara atau 6,01 persen, dan PPP dengan 5.533.214 suara atau 5,32 persen.

Selanjutnya, posisi ketujuh hingga kesembilan adalah PKB dengan 5.146.122 atau 4,94 persen, Gerindra dengan 4.646.406 suara atau 4,46 persen, dan terakhir Hanura dengan 3.922.870 suara atau 3,77 persen.

Sesuai dengan Pasal 202 UU 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif, parpol peserta pemilu yang memenuhi ambang batas perolehan sekurang-kurangnya 2,5 persen dari jumlah suara sah secara nasional dapat diikutkan dalam penentuan perolehan kursi.

Selain penetapan hasil pemilu yang dilakukan malam ini, KPU juga mengagendakan untuk mengumumkan hasil perolehan kursi perserta jumlah suara sah yang merupakan bagian persyaratan untuk dapat mengajukan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada pemilu 2009.

Pasal 9 UU 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden menyebutkan, pasangan calon diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR . Sedangkan waktu pendaftaran capres dan cawapres mulai dibuka dari tanggal 10 Mei hingga 19 Mei 2009

Read Full Post »

Menghadapi pemilihan presiden bulan Juli mendatang, warga NU  seharusnya memilih calon presiden yang bermanfaat bagi NU. Warga NU diharapkan jangan melakukan golput dan tetap menggunakan hak pilihnya.

Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Moh Adnan menegaskan hal itu kepada wartawan usai acara pelantikan pengurus Cabang NU Kudus di SMA Alma’ruf Kudus Ahad (10/5) kemarin.

Secara kelembagaan, tegas Adnan, NU akan tetap netral tidak berpihak kepada salah satu partai atau capres. Namun warga NU diberikan kebebasan memilih salah satu capres, karena memang menjadi hak pilihnya.

“Sudah menjadi hak bagi warga Negara untuk menggunakan hak pilihnya dalam mendatang termasuk warga NU. Cuma warga NU idealnya memilih capres yang bermanfaat” Katanya.

Senada dengan hal itu, Musytasyar PCNU Kudus KH. Sya’roni Ahmadi mengatakan warga NU bebas memilih  tetapi khusus pilpres bebasnya  terpimpin. Pimpinan NU perlu mengarahkan warganya untuk memilih capres nanti. Hal ini menghindari kekeliruan warga NU dalam menentukan pilihan. Seharusnya pilpres nanti warga nahdliyyin memilih capres yang cakap, jujur dan sejalan dengan aqidah NU.

“Pemilihan presiden berbeda dengan pemilihan legislatif. Kalau pileg tidak usah kami arahkan, tetapi pilihan presiden nanti warga NU harus  memilih pasangan yang cakap dan jujur serta sejalan dengan aqidah kita.” Kata ulama kharismatik Kudus saat menyampaikann mauidhoh hasanah dalam pelantikan PCNU Kudus ahad kemarin.

Menyikapi banyaknya warga NU yang tidak masuk Daftar pemilih, Ketua PW NU Jateng MohAdnan menegaskan bukan kesalahan warganya. Semestinya, parpol lebih proaktif dalam mendata masyarakat termasuk kaum nahdliyyin yang menjadi kader maupun simpatisannya.

“Sebab parpol mempunyai kepentingan untuk mencari massa dalam setiap penyelenggaraan pemilu” tambahnya singkat

Read Full Post »

Pemimpin NU Harus dari Kader NU

Jakarta, NU Online
Jika keberadaan NU bisa terus langgeng, para pemimpin yang akan dipilih harus kader yang sudah teruji perjuangannya bagi NU, bukan orang luar yang tak faham NU yang akhirnya malah merongrong NU.

Demikian pendapat KH Said Aqil Siradj tentang kriteria penting yang harus dimiliki oleh para pimpinan NU dalam perbincangan dengan NU Online baru-baru ini.

“Sudah banyak terbukti di ormas Islam lain yang dipimpin oleh orang yang bukan kader internal akhirnya menjadi kerdil dan tak berdaya,” katanya.

PBNU juga pernah mengalami intervensi dari pemerintah Orde Baru saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung Jawa Barat tahun 1994. Saat itu, Gus Dur yang merupakan tokoh oposisi Orde Baru berusaha disingkirkan dan diganti dengan pemimpin yang bisa dikendalikan oleh pemerintah. Namun upaya tersebut gagal.

“Sebuah organisasi yang dikooptasi oleh fihak lain juga tidak akan bisa menjadi besar dan disegani,” terangnya.

Dengan kepemimpinan Gus Dur selama tiga periode, NU menjadi ormas Islam terbesar di dunia yang disegani dan menghasilkan kader-kader militan NU serta menyemai pengembangan masyarakat sipil di Indonesia yang membantu terjadinya perubahan di Indonesia.

Pasca Gus Dur, PBNU dipimpin oleh KH Hasyim Muzadi yang melanjutkan perjuangannya mengembangkan NU, terutama dalam penataan manajemen dan pengembangan NU di luar Jawa.

“Tiap pemimpin memiliki masanya sendiri-sendiri dan Gus Dur maupun Pak Hasyim paling pas di jamannya,” tandasnya.

Lalu, siapa nantinya yang akan memimpin NU di masa mendatang ditengah-tengah situasi internal dan eksternal yang terus berubah? Hal tersebut bisa dilihat pada Muktamar NU ke-32 mendatang. (mkf)

Read Full Post »

Saat melaksanakan haji merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya. Beribadah di Haramain (Makkah dan Madinah) mempunyai keutaman yang lebih dari tempat-tempat lainnya. Maka para jamaah haji menyempatkan diri berziarah ke makah Rasulullah SAW. Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya. Rasulullah SAW sendiri bersabda: مَنْ جَائَنِي زَائِرًا لَمْ تَدْعُهُ حَاجَةٌ اِلاَّ زِيَارَتِي كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أنْ أكُوْنَ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ Siapa saja yang datang kepadaku untuk berziarah, dan keperluannya hanya utnuk beziarah kepadaku maka Allh SWT memberikan jaminan agar aku menjadi orang yang memberi syafa’at (pertolongan) kepadanya di hari kiamat nanti. (HR Darul Quthni) ِApalagi ziarah itu dilakukan pada saat melakukan ibadah haji. Dalam hadits lain disebutkan: عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِهِ Dari Ibn ‘Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni) Atas dasar ini, pengarang kitab I’anatut Thalibin menyatakan: “Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam. Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar. Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya. Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.” (I’anatut Thalibin, juz II, hal 313) Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW: عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَتَتَّخِذُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَلا تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَاِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada.” (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449) Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar: “Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW. Yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo’a di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW. (Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia.” (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103) Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.

Read Full Post »

Older Posts »